My Pen's Scratches

kenging bewara yen fts teh diundur dugi kaping 9 Juli, ngenes enya, keuheul enya, mewek puguh deui, Beurat nyuhun beurat nanggung, beurat narimakeunana, ngan kumaha deui geus kitu jalana, jalmi mah mung saukur ngusahakeun nanging Pangeran anu nangtukeun, sugan we ku dipendingna fts urang tiasa ningali hikmahna ti ayeuna sok sanajan eta hikmah teh katempuhanana ditukang, ngan nu penting mah urang kudu tetep sabar, kudu bisa neangan jalan sanajan panto ditutup, lain hartina panto nu sejen ge milu ditutup, hayu urang teangan eta panto, kamana bungbulukanana, insyaallah endah mah panungtung datangna, ngan nitip hiji, sing leukeun jeung sumanget, Balungbang timur, caang bulan opat belas, jalan gede sasapuan beak karep ku rido jeung beresih hate, sing sumanget LSS!!insyaallah LSS moal elehan najan sagede gedena batu ngahalangn, LSS bisa neangan jalan, insyaallah urang tiasa ngaliwatan ieu..KURING LSS KURING TEU ELEHAN!!(tungguan kami LSS!!)

– Derry Apriansyah, Pupuhu LSS  (via neibillabong) Via a blessing in disguise
Lustrum VIII LSS ITB

Lustrum VIII LSS ITB


Okelah urang sombong, tapi kalian iri kan??

– Kang Gilang Mardian

Orang yang Optimis Tidak Pernah Beralasan?

Malam ini saya melihat retweet teman saya yang berbunyi: Dlm masyarakat tukang DALIH/ALASAN dsbt THE LOSER (pecundang). Sebaliknya org yg sll OPTIMIS dsbt THE WINNER (pemenang). Hal ini terus terang membuat saya agak memutar otak. Apakah tukang beralasan adalah orang yang tidak optimis? menurut saya jawabannya adalah tidak, bahkan orang yang selalu optimis yang disebut THE WINNER adalah orang yang pandai beralasan. Bayangkan saja, ketika seseorang melakukan usaha, dan usahanya gagal di tengah jalan, tentunya dia akan   


I know it’s a mistake, but there are certain things in life where you know it’s a mistake but don’t really know it’s a mistake because the only way to really know it’s a mistake is to make the mistake, and look back, and say, “Yep. That was a mistake.

– Lily Aldrin
Unforgettable Anime

Unforgettable Anime


peachboum asked: hey you!!! hahahah pie kabare pak?? udh ngilang aj nih.. hahaha :p

alhamdulillah baek.. haha. nggak ngilang kok, masih tetap ekis di dunia, belom pindah ke akherat.


Mungkin orang akan mengatakan saya kolot, kampungan, ndak jamani, bahkan primitif sekalipun, saya tidak peduli. Saya bahagia dengan apa yang saya yakini kebenarannya.

– Khairul Azzam

Makan Sambil Duduk: Sesulit itukah?

Saya sering sekali menemukan fenomena ini di masyarakat. hampir semua orang yang saya temui di berbagai tempat, makan atau minum dalam keadaan berdiri. Bahkan tidak sedikit orang yang makan sambil berdiri dan menggunakan tangan kiri. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan adat dan budaya yang telah dibangun suku bangsa kita selama ini? Dinomorberapakan kewajiban dalam agama kita?

 Mungkin ada sebagian orang yang melihat tulisan saya ini lantas men-judge saya kampungan, kolot atau apapun, tetapi coba kita lihat kembali. Orang-orang tua kita dahulu mengajarkan kita untuk makan sambil duduk dan menggunakan tangan yang baik (tangan kanan) karena alasan adat (dalam adat saya, biasanya digunakan kata “pamali”). Penggunaan tangan kanan dan duduk ketika makan dan minum menjadi suatu norma kesopanan yang (dahulu) dijadikan tolak ukur seberapa berpendidikannya seseorang. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu dan berbagai macam kebudayaan asing yang masuk ke negeri kita, kewajiban duduk dan menggunakan tangan kanan selama makan dan minum bergeser dari “tidak boleh” menjadi “tidak apa-apa”.

Kewajiban untuk duduk dan menggunakan tangan kanan selama makan dan minum pun bukan sekedar menjadi norma kesopanan, tetapi juga merupakan kewajiban dalam agama Islam. Penggunaan tangan kiri ketika makan dan minum merupakan penyamaan terhadap sifat setan. Minum sambil berdiri pun tidak diperbolehkan, kecuali dengan alasan sakit. Menurut saya, kidal bukan merupakan alasan untuk makan-minum dengan tangan kiri, karena hal tersebut dapat dilatih.

 Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan, agar kita kembali kepada nilai-nilai yang dahulu kita anut, baik nilai adat dan nilai budaya. Jangan sampai generasi-generasi setelah kita tidak mengetahui norma kesopanan dan kewajiban dalam agama yang telah diwariskan turun-temurun dari leluhur kita, karena kita sendiri tidak melestarikannya. 


kittykittygirl asked: saya juga sedang tidak begitu baik, memang anda kenapa mahrom??


12
To Tumblr, Love PixelUnion

We're updating Fluid!

Soon, we'll be updating the look and feel of this theme. Read about the changes here. You can easily turn off this notification in the theme customization panel.

Close